Bursa Wall Sreet Akhirnya Bangkit Setelah Berdarah-darah

Markets Wall Street. (AP/Courtney Crow)

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street akhirnya menghijau setelah berdarah-darah.

Pada sesi awal pembukaan perdagangan Selasa (14/3/3023), indeks Dow Jones naik 0,94% ke 32.119,51. Sementara itu, indeks Nasdaq melonjak 1,69% ke 11.374,23 dan indeks S&P 500 menguat 1,39% ke 3.910,02.

Hijaunya bursa Wall Street menjadi angin segar setelah bursa berdarah-darah sejak akhir pekan lalu.

Pada penutupan perdagangan Senin (13/3/2023), bursa ditutup beragam. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,28%, indeks S&P juga ditutup melemah 0,15% dan hanya indeks Nasdaq yang ditutup menguat 0,45%.

Pada pekan lalu, indeks Dow Jones jatuh 4,44% sepekan atau terburuk sejak Juni tahun lalu. Indeks S&P ambruk 4,55% sepekan sementara indeks Nasdaq anjlok 4,71%.

Indeks jatuh karena dipicu oleh kekhawatiran atas kolapsnya Silicon Valley Bank (SVB) dan Signature Bank pada akhir pekan lalu. Kejatuhan dua bank menimbulkan kepanikan pasar.

Pelaku pasar kini menghitung dampak inflasi Februari 2023 kepada kebijakan moneter bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed).

Malam ini, Departemen Tenaga Kerja mengumumkan data inflasi Februari 2023. Inflasi AS tercatat 0,4% (month to month/mtm), melandai tipis dibandingkan pada Januari 2023 yang tercatat 0,5%. Inflasi juga jauh di atas ekspektasi pasar yakni deflasi 0,1%.

Secara tahunan, inflasi menembus 6% pada bulan lalu atau melandai dibandingkan 6,4% pada Januari 2023.

Sementara itu, inflasi inti tercatat 5,5% (yoy) pada Februari 2023. Inflasi inti hanya turun tipis dibandingkan pada Januari yang tercatat 5,5%.

Inflasi akan menjadi pertimbangan The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga pada 21-22 Maret mendatang.

Dengan inflasi yang melandai dan kolapsnya SVB maka pasar kini berekspektasi The Fed akan melunak dengan tidak menaikkan suku bunga secara agresif.

“Melihat tekanan yang terjadi di sistem perbankan, kami tidak lagi memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada 22 Maret mendatang,” kata Jan Hatzius, ekonom Goldman Sachs dalam sebuah catatan yang dikutip CNBC International.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*