Jack Ma Buka Suara Soal ChatGPT, Kasih Warning Ini

Jack Ma, founder of Alibaba Group (China News Service via Getty Ima/China News Service)

Jack Ma akhirnya pulang kampung ke China setelah sekitar 2 tahun melalang buana. Hal ini menunjukkan Presiden Xi Jinping mulai melunak ke milyarder tersebut, serta industri teknologi secara umum.

Salah satu agenda pertama Ma adalah mengunjungi Yungu School, yakni sekolah swasta yang dibiayai Alibaba dan berlokasi di Hangzhou.

Dalam kunjungannya, Ma menyinggung soal kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI), utamanya sejak kemunculan chatbot populer ChatGPT. Ia bercengkrama dengan para guru di sekolah itu soal dampak dari ChatGPT.

“Teknologi seperti ChatGPT membawa tantangan baru untuk dunia pendidikan, akan tetapi teknologi ini hanyalah permulaan dari era kecerdasan buatan,” kata Ma, dikutip dari Weixin, Senin (3/4/2023).

Lebih lanjut, Ma menegaskan bahwa AI seharusnya berperan sebagai pembantu aktivitas manusia, bukan malah menggantikan peran manusia.

“Meski kekuatan fisik dan mental manusia lebih lemah dari mesin, namun manusia punya hati,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar manusia berperan dalam kemajuan teknologi AI ke depannya. Ia menyarankan agar teknologi AI tak bisa dilepas hinggga tak terkendali.

Kemunculan Ma di China dianggap membawa hawa segar bagi perekonomian. Sebelumnya, Ma kabur dari Negeri Tirai Bambu usai mendapat tekanan bertubi-tubi dari pemerintah.

Pekan lalu, Alibaba mengumumkan restrukturisasi besar-besaran. Raksasa tersebut akan membagi bisnisnya menjadi 6 unit. Saham Alibaba pun naik usai resktrukturisasi tersebut, 12% di bursa Hong Kong dan 14% di Wall Street.

“Strategi ini dirancang untuk meningkatkan daya saing dan nilai pemegang saham,” kata juru bicara perusahaan.

Menilik ke 2 tahun lalu, hal ini bisa dibilang tak mungkin terjadi. Pasalnya, pemerintah China kala itu menentang habis-habisan ekspansi perusahaan teknologi yang sudah menjadi dinasti konglomerat.

Pemerintah melunak ke Jack Ma Cs bukan tanpa alasan. Selama 2 tahun terakhir, perekonomian China terpukul karena kebijakan Covid yang ketat.

Selain itu, aturan yang mengekang bagi perkembangan sektor teknologi juga membuat ekonomi melambat. Kini, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5% pada tahun ini.

Untuk mencapai itu, China sadar perlu bantuan sektor privat, utamanya industri teknologi. Apalagi, China juga tengah digempur pihak global dengan pemblokiran TikTok di mana-mana.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*