Kisah Salim Bangkit dari Badai Krisis, Kembali Jaya & Tajir

Liem Sioe Liong atau dikenal dengan nama Indonesia Sudono Salim, adalah seorang pengusaha Indonesia. (Dok. Istimewa)

Badai krisis 1998 membuat Sudono Salim alias Liem Sioe Liong terpuruk. Selama masa krisis dia menjadi korban amukan massa yang sentimen terhadap Soeharto dan Tionghoa. Kerajaan bisnisnya hancur, bahkan rumah pribadinya dibakar.

Tak berhenti di situ, gelombang badai pun terus berlanjut setelah Soeharto lengser pada 21 Mei 1998.

Mengutip Democratization in Post-Suharto Indonesia (2009), derasnya kebebasan berpendapat membuat banyak pihak https://dwslot88apk.com/ meminta aparat mengusut kasus KKN di relasi Salim-Soeharto. Hal ini membuat Salim kesulitan membangun kembali bisnisnya. Apalagi, kini dia tak lagi memiliki ‘bekingan’ yang selama ini membantu melancarkan bisnisnya. Penguasa baru, Presiden B.J Habibie, tidak memiliki kedekatan khusus dengan orang terkaya di Indonesia itu.

Lantas, bagaimana cara Salim bangkit sendirian menyusun kembali kerajaan bisnisnya hingga tetap sukses seperti sekarang?

Pintar melihat peluang

Tiga sektor utama bisnis Salim, yakni perbankan (BCA), konstruksi (Indocement), dan makanan (Bogasari dan Indofood), tak ada yang luput dari hantaman krisis.

BCA menjadi yang terparah karena menurut Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (2009), “BCA merupakan objek serangan utama.”. Tercatat, 122 kantor cabang rusak dan 150 mesin ATM dibobol hingga rugi Rp 3 miliar. Ini belum memperhitungkan kerugian akibat penarikan uang nasabah besar-besaran selama periode krisis.

Indofood dan Indocement juga bernasib sama. Pabrik dan lokasi distribusinya hancur dijarah dan dibakar massa. Bahkan, penjarahan dan pembakaran pabrik Indofood di Solo menelan kerugian Rp 42 miliar. Namun, dua lini bisnis Salim ini cukup beruntung ketimbang BCA. Sebab, sepekan setelah Soeharto lengser, BCA diambilalih negara karena keuangannya yang berdarah-darah. Pemerintah mengambil sikap ini karena dikhawatirkan jika BCA benar-benar bangkrut akan mengganggu sektor perbankan nasional. Sejak itulah, BCA lepas dari tangan Salim.

Menurut Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group (2016), kehilangan BCA adalah sesuatu yang sangat perih bagi Salim. Pasalnya, dia, dan juga Mochtar Riady, adalah aktor utama yang membesarkan BCA dari nol menjadi bank swasta terbesar di Indonesia selama puluhan tahun.

Fokus jualan Indomie

Di tangan Salim tersisa dua sektor bisnis. Dan dari dua itu, Salim, lewat anaknya Anthony Salim, memilih fokus mengembangkan Indofood untuk menyusun kembali kerajaan bisnisnya. Alasannya pun sederhana: orang selalu lapar dan mencari makan.

Indonesia memang krisis, tetapi rakyat yang lapar butuh makan. Dengan kondisi dompet yang tipis, satu-satunya pilihan makanan yang terjangkau adalah mi instan. Dan pemain utama pasar mi instan Indonesia saat itu adalah Indofood (PT. Indofood Sukses Makmur [INDF]) yang memiliki produk Indomie, Sarimi dan Supermie. Ketiganya telah disantap jutaan orang Indonesia dan Asia.

Meski begitu, untuk menjadikan Indofood sebagai mesin baru pendulang uang ternyata sulit. Perusahaan ini kenyataanya juga bermasalah karena terlilit hutang sebesar US$ 989 juta.

“Alhasil, Salim membutuhkan suntikan modal dan membuka pintu investasi. […] Namun, dia juga tak mau melepaskan kepemilikan 63% saham di Indofood.” tulis Richard Borsuk dan Nancy Chng.

Investor pertama datang dari perusahaan besar Jepang, Nissin Food Products. Pendiri Nissin adalah penemu mi instan, Momofuku Ando. Karena sama-sama memproduksi mi, Nissin merasa cocok dan ingin mengakuisisi 60% saham Indofood. Dalam proses ini, perusahaan Jepang itu dibantu oleh perusahaan investasi First Pacific.

Seiring berjalannya waktu, proses kesepakatan kedua pihak berjalan positif. Namun, saat hendak mencapai kata mufakat hubungan itu buyar. Salim akhirnya menolak pelepasan 60% saham miliknya di Februari 1999.

Namun, kesepakatan justru terjadi antara First Pacific dengan Indofood. Perusahaan Hongkong itu akan membeli 40% saham Indofood senilai US$ 650 Juta. Salim setuju dan sejak itu kepengurusan Indofood dipegang oleh dua pihak.

Menurut Richard Borsuk dan Nancy Chng yang mengutip Harian Asian Wall Street Journal, kesepakatan ini adalah cara Salim melindungi Indofood dari setiap pembalasan politik karena perubahan pemerintahan di Indonesia.

Terlepas dari motif kesepakatan itu yang pasti kesuksesan Salim mencari modal membuat Indofood pun moncer. Produksi mi instan bisa digenjot. Pasarnya diperluas ke mancanegara.

Seluruh usaha ini berujung pada bertambahnya pundi-pundi kekayaan Salim. Berkat ini pula, utang-utang Salim kepada Bank Indonesia bisa lunas dan terpenting dia bisa membangun kembali kerajaan bisnis.

“Setelah mendapat surat keterangan lunas dari pemerintah pada Maret 2004, Anthony perlahan kembali tampil ke panggung bisnis nasional […] Salim kembali mengarahkan fokus bisnisnya ke industri makanan dan produk konsumen, ” tulis Pusat Data dan Analisa Tempo dalam Profil Bisnis Grup Salim.

Saat tampil kembali, Salim tercatat mulai bermain di industri minyak sawit lewat PT Salim Ivomas Pratama. Lalu, dia membangun bisnis gula di lampung. Di luar negeri, lewat bendera First Pacific, dia juga merambah pasar Filipina, Thailand, China, Hongkong, dan India.

Dalam pencatatan tim riset CNBC Indonesia pada 5 April 2022, gurita bisnis Salim juga ada di sektor energi, konstruksi, asuransi, media, dan perbankan.

“Jika ditotal-total, semua emiten yang terafiliasi dengan Grup Salim baik langsung maupun tak langsung, baik yang kepemilikannya hanya di bawah 10% hingga lebih dari 75%, nilai kapitalisasi pasarnya mencapai hampir Rp 708,3 triliun,” tulis tim riset CNBC Indonesia.

Atas besarnya nilai kapitalisasi tersebut, tak heran kalau Forbes mencatat Anthony Salim dan keluarga di urutan ke-5 orang terkaya Indonesia berharta US$ 7,5 miliar atau setara Rp 114,84 triliun (Kurs Rp 14.836)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*