PENYEBAB Petugas KPPS Meninggal Dunia, KPU Soroti Mekanisme Penghitungan Surat Suara

Salah satu petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) bernama Daliyah Salsabila meninggal dunia.

Wanita berusia 23 tahun itu sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit (RS) pada Kamis (15/2/2024) siang.

Sebagaimana diketahui, pencoblosan dan pemungutan suara Pemilu 2024 digelar serentak pada Rabu (14/2/2023).

Jenazah Daliyah Salsabila disemayamkan di rumah duka di kompleks perumahan Minasaupa Blok L Nomor 18, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Ucapan belasungkawa datang dari Wali Kota Makassar Moh Ramdhan (Danny) Pomanto dan Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Mokhamad Ngajib.

Salah satu kerabat Daliyah Salsabila, Iwan (44), mengatakan bahwa sebelum dinyatakan meninggal dunia, almarhumah sempat mengeluh kurang enak badan.

Kata Iwan, sosok Daliyah memang dikenal sangat bertanggung jawab saat sudah diberikan amanah.

Saat itu, Daliyah pun memilih untuk tidak berobat dan melanjutkan tanggung jawabnya sebagai petugas KPPS bahkan ikut menyalurkan hak pilihnya.

“Saya bilang tidak usah paksakan dirimu, istirahat saja, tapi dia hanya senyum saja, siang saya tanya dijawab masih kurang enak badan,” sambungnya.

Memang anaknya ini pendiam, tapi tanggung jawab tinggi sekali kalau sudah mengemban amanah,” ungkapnya.

Iwan tak menampik bahwa yang bersangkutan memang mempunyai riwayat penyakit maag akut dan sering saja kambuh.

“Maag akut, dia ada maag. Tapi hasil keterangan kematian yang dikeluarkan RS itu berhentinya fungsi jantung secara tiba-tiba,” bebernya.

Jenazah Daliyah dikebumikan di TPU Panaikang, Kota Makassar, Sulsel, pada Jumat (16/2/2024).

Iwan mewakili keluarga besarnya pun mengaku sudah mengikhlaskan kepergian Daliyah.

“Ini sudah takdir tidak bisa kita tentukan. Kita dari pihak keluarga sudah ikhlas. Apa pun yang terjadi almarhumah sudah berbuat yang terbaik,” tutupnya.

Dikutip dari Kompas.com, total dua petugas KPPS meninggal dunia, lima jatuh sakit.

Untuk diketahui, ada dua petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang meninggal dunia.

Kedua anggota KPPS yang meninggal tersebut yakni William (24), warga Perumahan Makassar Indah dan Daliyah Salsabila (23) warga Kelurahan Minasa Upa, Makassar.

Ketua KPU Makassar, Hambaliie yang ditemui di rumah duka William mengatakan, 2 petugas KPPS meninggal diduga akibat kelelahan.

“Kedua petugas KPPS ini sebelum meninggal sempat sakit setelah mengantar undangan memilih pada tanggal 13 Februari 2024. Keduanya sempat dirawat di rumah sakit,” katanya.

Hambaliie mengungkapkan, selain dua orang petugas KPPS yang meninggal, tercatat ada 5 orang yang jatuh sakit dan tengah dirawat di rumah sakit.

“Ada 5 orang petugas KPPS yang jatuh sakit dan sementara perawatan di rumah sakit. Saya baru mengecek semua keadaannya di rumah sakit,” pungkasnya.

Sementara, pihak KPU menyampaikan, santunan kepada keluarga anggota KPPS yang meninggal dunia, bakal disiapkan berdasarkan keputusan Menteri Keuangan.

Hal itu disampaikan Anggota KPU RI Idham Holik. Kata dia, Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih melakukan pendataan terkait jumlah petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) yang meninggal dunia saat hari pemungutan suara, Rabu, 14 Februari 2024.

Di sisi lain, Anggota KPU RI Idham Holik mengatakan, sebetulnya KPU sudah menyiapkan mekanisme penghitungan surat suara dengan dua panel.

“Ya mekanisme pemungutan perhitungan suara masih sama (dengan Pemilu 2019),” ujar Idham di Kantor KPU RI, Jakarta, Kamis, 15 Februari 2024.

Menurut Idham, mekanisme penghitungan suara dua panel itu diajukan oleh KPU melalui rancangan Peraturan KPU Nomor 25/2023 dan sudah dikonsultasikan oleh pembentukan undang undang, yakni pemerintah dan DPR.

Melalui skema dua panel, nantinya petugas KPPS yang jumlahnya tujuh akan dibagi ke dalam dua kelompok untuk menghitung jenis surat suara yang berbeda dalam waktu yang bersamaan.

Panel A, misalnya, menghitung surat suara pemilu Presiden-Wakil Presiden dan DPD. Sementara Panel B menghitung surat suara pemilu anggota DPR RI, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. “Tapi dalam rapat konsultasi tersebut ternyata pembentukan undang-undang berpendapat tetap satu panel, yang pada akhirnya proses perhitungan suara suara itu dilakukan sampai dengan dini hari,” ujar Idham.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*